Bank Pakan Upaya Kelompok Peternak Rengak Maju untuk Perkuat Ketahanan Pakan

Oleh : Gusva Yetti SPt MM

Pengawas Mutu Pakan Muda Muda pada Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

PAKAN termasuk salah satu komponen biaya operasional usaha peternakan. Bahkan sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen dari total biaya operasional peternakan adalah biaya pakan. Tingginya biaya pakan tentu dapat mempengaruhi tingkat keuntungan. Karena itu biaya pakan mesti ditekan seminimal mungkin. Salah satu strateginya melalui penggunaan bahan lokal, bermutu, disukai ternak, murah dan tersedia di sepanjang tahun. Apalagi peningkatan jumlah sapi yang dipelihara juga merupakan tantangan bagi peternak untuk menyediakan hijauan dalam jumlah yang lebih banyak, tahan lama dan berkualitas.

Potensi bahan pakan yang melimpah dapat diolah, disimpan serta dapat digunakan pada saat dibutuhkan menjadi salah satu upaya untuk menjamin ketersediaan bahan pakan tersebut. Di Provinsi Kepulauan  Bangka Belitung potensi bahan pakan tersebut tersedia cukup banyak diantaranya limbah perkebunan sawit seperti bungkil sawit, solid, pelepah sawit yang belum termanfaatkan secara optimal. Begitu pula dengan limbah pertanian  seperti onggok, daun ubi, kulit ubi, jerami padi, jagung, dedak padi dan daun kacang-kacangan

Untuk mempermudah dalam pengelolaan dan penyimpanan bahan pakan maka ada baiknya peternak mendirikan Bank Pakan. Bank Pakan merupakan salah upaya untuk membantu mempermudah peternak dalam kegiatan peternakan. Pembuatan Bank Pakan dengan cara mengolah bahan yang tersedia, lalu menyimpannya dan diberikan kepada ternaknya pada saat dibutuhkan bukan hanya dapat mengoptimalkan waktu dan cara pemberian pakan tetapi juga dapat menghemat waktu dan biaya yang harus dikeluarkan peternak. Selain itu keberadaan Bank Pakan juga merupakan solusi bagi peternak dalam mengatasi keterbatasan hijauan pada saat musim kemarau karena Bank Pakan didirikan memang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi agar sapi dapat tetap mengkonsumsi hijauan pada saat musim kemarau sebagaimana yang dilakukan oleh Kelompok Rengak Maju yang berlokasi di Desa Tugang Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat. Sumber bahan pakan yang tersedia cukup banyak menjadi pemicu kelompok Rengak Maju  untuk mengolah sumber pakan tersebut melalui Bank Pakan.  

Pemanfaatan bahan baku yang ada di sekitar lokasi ternak, seperti daun ubi, onggok, kulit ubi, pelepah kelapa sawit, bungkil  sawit, rumput gajah, garam, molasses, serta premix ditambah probiotik selanutnya diolah menjadi feed komplit dalam bentuk silase dapat disimpan dalam waktu lama, sehingga dapat diberikan  pada saat dibutuhkan. Metode pengawetan limbah pertanian yang dilakukan melalui Bank Pakan adalah pembuatan silase berbahan limbah pertanian. Hal tersebut berarti bahwa ternak dapat mengonsumsi hijauan sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Proses silase (ensilage) terjadi dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Prosedur yang dikerjakan dalam pembuatan silase pada prinsipnya harus dapat memacu terjadinya kondisi anaerob dan kondisi asam dalam waktu sesingkat mungkin. Silase yang baik dapat dilihat dari tingkah laku ternak dalam mengonsumsi pakan silase. Ternak akan memakan pakan silase dengan lahap apabila kualitasnya baik. Pakan yang diawetkan melalui proses silase tidak boleh segera diberikan pada ternak setelah diambil dari tempat penyimpanan pakan yang dinamakan silo. Silase yang telah dikeluarkan dari silo sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu.*)

Penulis: 
Gusva Yetti SPt MM
Sumber: 
DINAS PERTANIAN