Kenali, Cegah, dan Kendalikan Ancaman Resistensi Antimikroba bagi Kesehatan Hewan, Manusia dan Lingkungan

Oleh : drh. Ahmad Nurhakim

Medik Veteriner Muda pada Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus Kepala Bidang Humas, Promosi dan Advokasi Profesi Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

 

ANTIBIOTIK telah menyelamatkan banyak nyawa terutama pada penggunaannya selama Perang Dunia II sejak ditemukan sebagai agen antimikroba pada tahun 1928 oleh Sir Alexander Fleming. Antibiotik selain digunakan pada manusia, juga digunakan pada hewan baik untuk pencegahan, pengobatan maupun sebagai pemacu pertumbuhan. Namun belakangan ini penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dilarang digunakan sebagai imbuhan pakan kecuali untuk therapy atau pengobatan karena dapat memicu resitensi antimikroba sebagaimana tertuang dalam Permentan No. 14/2017 per 1 Januari 2018. Selain itu Penggunaan antibiotik yang tidak perlu atau berlebihan dapat mendorong berkembangnya resistensi terhadap bakteri tertentu. Resistensi antimikroba didefinisikan sebagai kebalnya mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit dan jamur terhadap obat antimikroba yang sebelumnya efektif untuk pengobatan infeksi.

Sejak tahun 1997, WHO (World Health Organization)  telah melarang pemakaian antibiotika yang digunakan pada ternak dan menyarankan semua negara melakukan surveilens terhadap resistensi antibiotika baik pada manusia maupun hewan (WHO 1997). Pada tahun 2013, Central for Disease Control and Prevention (CDC) juga mengumumkan bahwa manusia telah memasuki “post-antibiotic era” dan WHO pada tahun 2014 memperingatkan bahwa krisis resistensi antibiotik telah menjadi ancaman kesehatan serius di dunia (WHO  2011).  Perkembangan resistensi antimikroba menimbulkan ancaman kesehatan global secara signifikan terhadap populasi di seluruh dunia. Akibat pertumbuhan perdagangan dan perjalanan global yang semakin pesat, potensi penyebaran mikroorganisme menjadi sangat cepat dan tinggi sehingga tidak ada satupun negara yang bisa terbebas dari ancaman resistensi antimikroba baik negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Tanpa langkah yang efektif dan tepat, kematian manusia dari dampak resisstensi antimikroba diperkirakan meningkat dari 700.000 kematian global pada tahun 2014 menjadi lebih dari 10 juta pada tahun 2050 dan menjadi penyebab kematian tertinggi setelah kanker. Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian penggunaan antibiotik disemua sektor untuk mencegah resistensi antimikroba.

Resistensi dapat timbul secara spontan melalui proses mutasi, selain itu gen dapat diwariskan secara vertikal atau dapat diperoleh dari bakteri lain secara horizontal. Mekanisme ini akan meningkatkan kemungkinan kejadian resistensi pada bakteri patogen lain di lingkungan. Mengingat banyaknya bakteri patogen yang tersebar di lingkungan dan secara bebas dapat kontak dengan bakteri yang telah mengalami resistensi, maka kemungkinan terjadinya multi drug resistance /  MDR (bakteri resisten terhadap minimal satu jenis antibiotik dari ≥3 golongan antibiotik) sampai pada pandrug resistant / PDR (bakteri resiten terbadap semua agen antibiotik dari semua kategori) pada bakteri patogen semakin meningkat. Hal ini menjadi ancama serius bagi kesehatan manusia, hewan dan lingkungan karena kita akan kembali pada era di mana kita belum mengenal antibiotik sama sekali. Penyakit infeksi akibat bakteri akan merebak dimana-mana dan tidak ada antibiotik yang bisa digunakan untuk menekan laju penyebaran penyakit. Beberapa dampak yang dapat terjadi akibat resitensi antimikroba adalah menurunnya efikasi antibiotik, biaya perawatan menjadi mahal, lamanya perawatan, penurunan produksi pangan dan pangan menjadi tidak aman, pencemaran lingkungan, hingga pada meningkatnya angka kesakitan dan kematian. Resistensi antimikroba juga memiliki potensi dampak kedepan terhadap perjalanan, migrasi, perdagangan dan pariwisata.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah meminimalkan resep yang tidak perlu dan terlalu banyak resep antibiotik, penggunaan yang benar dari antibiotik yang diresepkan, dan meningkatkan sanitasi dan higiene serta pengendalian infeksi. Adapun kebijakan pemerintah yang dapat dilakukan diantaranya adalah membuat dan menegakkan regulasi, melakukan registrasi dan sertifikasi, mengharuskan penggunaan obat dengan resep dokter/dokter hewan, memperketat pengawasan baik dalam distribusi maupun produksi, serta penggunaan antibiotik secara bijak dan tepat.

Ada Lima strategi global (global action plant) dalam pengendalian antimikroba yang menjadi rencana aksi nasional dalam pengendalian resistensi antimikroba dengan konsep “One Health” yaitu : meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antimikroba; memperkuat surveilans dan penelitian; melakukan upaya pencegahan infeksi melalui peningkatan sanitasi dan higiene atau penerapan biosekiriti 3 zona; mengoptimalkan penggunaan antimikroba; mengembangkan ketersediaan sumberdaya yang berkelanjutan dalam upaya pengobatan dan menurunkan penggunaan antimikroba.  Oleh karena itu kini saatnya seluruh masyarakat berbenah dengan menggunakan antibiotik secara bijak dan bertanggung jawab demi masa depan generasi berikutnya. Semoga Bermanfaaat.*)

Penulis: 
drh. Ahmad Nurhakim
Sumber: 
DINAS PERTANIAN