Kesejahteraan Hewan Kurban dapat Meningkatkan Mutu dan Keamanan Pangan

Oleh : drh. Ahmad Nurhakim

Medik Veteriner Muda pada Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus Kepala Bidang Humas, Promosi dan Advokasi Profesi Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

PENGERTIAN kesejahteraan hewan atau animal welfare menurut UU Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 18 Tahun 2009 pasal 1 Ayat 42 adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Penerapan kesejahteraan hewan (kesrawan) khususnya pada saat penyembelihan hewan kurban sangat penting karena dapat meningkatkan kualitas mutu dan keamanan dari daging kurban sehingga diharapkan berimbas pada kesejahteraan manusia.

Penerapan kesrawan selaras dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam qishah,-pent) maka berbuat ihsanlah dalam cara membunuh dan jika kalian menyembelih maka berbuat ihsanlah dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.

Berbuat ihsan pada hewan kurban salah satunya adalah dengan menajamkan pisaunya. Pisau yang tajam membuat sayatan tidak terlalu banyak cukup satu sampai tiga kali sehingga luka sayatan menjadi sempit dan tidak terlalu banyak syaraf yang teriris sehingga sapi tidak terlalu tersakiti. Luka sayatan menjadi halus dan bersih sehingga tidak mengaktifasi faktor-faktor pembekuan darah dan darah akan cepat keluar sehingga sapi akan cepat mati dan penderitaannya akan cepat selesai. Pengeluaran darah yang sempurna membuat daging tersebut tidak cepat rusak dan busuk karena darah menjadi salah satu media untuk pertumbuhan bakteri sehingga meningkatkan mutu dan keamanan daging kurban.

Pada Penyembelihan hewan kurban ada lima Prinsip kesrawan (5 Freedom) yang dapat diterapkan mulai dari penanganan hewan kurban, persiapan pemotongan hewan kurban sampai pada penyembelihan hewan kurban yaitu :

1. Bebas dari rasa lapar dan haus (freedom from hunger and thirsty) :

Pada penyembelihan hewan kurban, hewan sebaiknya dipuasakan tetapi tetap diberikan minum terutama dalam proses  pengangkutan yang jaraknya cukup jauh dan 12 jam sebelum penyembelihan. Ada beberapa tujuan hewan dipuasakan misalnya pada saat pengangkutan untuk mengurangi resiko kembung dan tidak nyaman pada pencernaannya sedangkan pada saat sebelum penyembelihan bertujuan agar hewan menjadi lebih tenang, agar isi perut tidak terlalu penuh sehingga pada saat dikeluarkan tidak berisiko pecah dan mengkontaminasi daging kurban, dan pada saat diiris lehernya tidak berisiko muntah karena asam lambung yang mengenai bekas luka dapat menyakiti hewan tersebut.

2, Bebas dari rasa tidak nyaman (freedom from discomfort) :

Pada proses handling atau perobohan dilakukan dengan metode yang tepat sesuai jenis dan perilaku hewan dan proses penyembelihan dilakukan sesegera mungkin setelah hewan dirobohkan diusahakan tidak melebihi 10 detik.

3. Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit (freedom from pain, injury and disease) :

Hewan dengan luka terbuka sebaiknya didahulukan penyembelihannya dan penggunaan pisau yang tajam dapat mengurangi rasa sakit dan mempecepat kematian. Penggunaan pisau yang tajam membuat sayatan menjadi lebih sedikit sehingga sedikit jaringan yang rusak dan semakin sedikit rasa sakit. Hewan yang sakit di tunda penyembelihannya dan dilaporkan ke petugas medik veteriner atau dokter hewan untuk diperiksa ante mortemnya. Laporan ante mortem ini akan digunakan sebagai acuan pada pemeriksaan post mortem berikutnya pada saat hewan disembelih. Hewan yang sakit anthrax di larang untuk dipotong karena berpotensi zoonosis. Hewan yang sedang diobati dengan antibiotik dilarang untuk dipotong karena berisiko memicu resistensi antibiotik pada manusia akibat cemaran antibiotik. Sebaiknya konsultasikan hewan kurban anda kepada dokter hewan untuk mengetahui waktu paruh obat atau withdrawal timenya.

4. Bebas dari rasa takut dan tertekan (freedom from fear and distress) :

Hewan memiliki perilaku berdasarkan sensory modalities atau kemampuan dan keterbatasan organ indranya. Organ indra ruminansia yang sensitive adalah penciuman, pendengaran dan penglihatan. Oleh karena itu hewan tidak boleh dekat dengan hewan yang sedang disembelih karena dia dapat mencium aroma kortisol / hormon stress yang ada di darah sapi yang disembelih sebelumnya. Selain itu dilarang  mengasah pisau di dekat hewan yang akan  disembelih. Selain tidak nyaman dengan bunyi asahan dengan pisau, hewan juga mengerti jeritan atau suara hewan yang sedang stress atau yang sedang disembelih. Sehingga jauhkanlah hewan yang hidup dari hewan lain yang sedang disembelih. Penglihatan atau mata pada hewan ruminansia  ada disamping sehingga penglihatannya lebih dominan monocular vision yang hanya melihat bayang-bayang secara samar tetapi lapang pandangnya menjadi sangat luas maka dia akan sangat terganggu jika banyak orang lalu lalang disekitarnya sehingga hanya orang yang berkepentingan saja yang berada di lokasi penyembelihan. Penglihatan sapi juga bersifat dikromatik artinya dia bisa membedakan warna dengan gelombang panjang seperti merah, orange dan kuning. Jadi hindarilah penggunaan warna-warna ini pada saat menangani sapi.

5. Bebas untuk menampilkan perilaku alaminya (freedom to express natural behaviour) :

Sapi adalah hewan sosisal sehingga sapi tidak dibiarkan sendirian di areal penyembelihan karena sapi dapat stress dan sulit ditangani.

Hewan yang stress kronis atau berkepanjangan misalnya akibat kelelahan karena transportasi yang jauh, trauma, kelaparan, sakit, kepanasan, ketakutan, maupun berkelahi dengan hewan lain dapat menyebabkan kadar glikogennya sangat rendah, jika kadar glikogen rendah maka pembentukan asam laktat yang akan mengubah otot menjadi daging  melalui proses enzimatis akan terganggu dan daging dari hewan yang stress menjadi dark (gelap), firm (alot) dan dry (kering) artinya kualitas daging menjadi jelek.

Hewan yang mengalami stress akut yang parah dalam waktu singkat  sesaat sebelum penyembelihan juga akan mempengaruhi mutu daging. Glikogen yang ada terlalu cepat diubah menjadi asam laktat sehingga pH akan turun drastis, dan daya ikat airnya akan menurun sehingga daging akan menjadi pale (pucat), soft (lembek) dan exudative (berair).

Hewan yang stress juga akan mempengaruhi kesempurnaan pengeluaran darah. Pada saat hewan stress maka system simpatis akan teraktifasi sehingga menyebabkan pembuluh darah mengecil , tekanan darah meningkat, darah banyak dialirkan ke otak dan otot. Dalam kondisi stress disembelih maka hewan akan lama matinya karena otak dibanjiri darah, risiko penyumbatan menjadi tinggi karena adanya konstriksi buluh darah sehingga darah akan banyak tertinggal di dalam daging yang menyebabkan penurunan kualitas mutu daging kurban dan daging akan cepat busuk dan berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.

Intinya penerapan kesrawan dalam penyembelihan hewan kurban lebih ditekankan bagaimana mengurangi tingat kesakitan dan stress karena semua proses penyembelihan berpotensi menimbulkan stress dan kesakitan mulai dari menaikkan ke kendaraan, pengangkutan, menurunkan dari kendaraan, penempatan di kandang jika kondisi kandang tidak layak, pengantaran sampai pada penyembelihan. Maka berlaku ihsanlah pada hewan kurban karena hewan yang stress dan sakit sebelum di sembelih dapat mempengaruhi mutu dan keamanan daging kurban.

Semoga penyembelihan hewan kurban tahun ini dapat berjalan lancar dan aman dengan tetap mengedepankan kesejahteraan hewan karena jika hewan sejahtera maka manusia juga akan sejahtera.*)

Penulis: 
drh. Ahmad Nurhakim
Sumber: 
BIDANG PETERNAKAN DINAS PERTANIAN