Kisah Sukses Ariyanto, Petani Sawah Pemilik Banyak Mobil yang Dulu Cuma Bermimpi Memiliki Kendaraan Roda Empat

ARIYANTO tertawa lepas. Giginya yang putih dan bersih terlihat jelas di saat derai tawa bapak dua anak itu memecah canda ketika mengobrol santai bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli di Cafe Coffee Break 09 Air Pairam miliknya, Jumat (25/06/2021) sore itu. Sesekali pria berusia lima puluh satu tahun itu manggut-manggut mendengarkan cerita Juaidi sembari menghembuskan kumpalan asap putih dari sebatang rokok filter yang ia hisap di antara kedua bibirnya yang mulai menghitam.

“Betul yang Pak Kadis (Juaidi Rusli-red) katakan, hidup tak boleh menyerah karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan,” kata Ariyanto kepada distan.babelprov.go.id usai menghadiri Temu Koordinasi Pembangunan Pertanian bersama Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Dr H Ezaldi Rosman SE MM dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Juaidi Rusli SP MP di Desa Rias Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan, Jumat (25/06/2021).

Ariyanto adalah seorang petani di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan. Desa yang menjadi andalan lumbung pangan Negeri Junjung Besaoh itu bernama Desa Rias. Kisah suksesnya sebagai petani sawah telah menginspirasi banyak orang. Bahkan kakek satu cucu yang dulunya cuma bermimpi memiliki kendaraan roda empat itu kini justru memiliki banyak mobil pribadi di grasi rumahnya.

“Terus terang dulu saya cuma bisa bermimpi menyetir mobil. Sangat tak mungkin rasanya dengan kesulitan hidup saat itu saya dan keluarga bisa membeli mobil. Tapi Alhamdulillah, kini saya memiliki lima mobil pribadi. Yang satu buat usaha mengangkut hasil panen sedangkan mobil yang lain untuk jalan-jalan dan buat hiburan,” ujar Ariyanto tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Ariyanto telah lama bermukim di Desa Rias itu. Sejak Tahun 1996 pria keturunan jawa yang berasal dari Belitang Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan itu telah menetap di Desa Rias. Ia menyebutkan menjadi petani tak semudah yang dibayangkan orang. Ketika itu Ariyanto mengaku tak pernah berhenti memutar otak untuk bisa memenuhi kekurangan kebutuhan hidup dari hasil panen yang ia peroleh. 

“Bahkan istri saya hampir mau menyerah karena susahnya hidup ketika itu. Kami tidak memiliki apa-apa ketika pertama kali berada di Desa Rias ini. Istri saya bilang alangkah susahnya hidup kita ini Pak. Saya sengaja datang ke Rias karena di Belitang kehidupan kami lebih susah lagi. Sulit sekali untuk mencari lahan sawah yang luas di sana,” kenang Ariyanto.

Berbekal kesabaran dan tekun dalam bertani kehidupan keluarga Ariyanto kemudian berubah. Kini kehidupan lelaki yang biasa disapa Riyan itu tak sesusah dulu. Hidup sulit yang dulu sempat menghimpit berubah sedikit demi sedikit. Sepetak sawah yang dulu ia kelola kini terus bertambah menjadi hamparan sawah seluas sepuluh hektar.  

“Di Rias saya memiliki sepuluh hektar sawah sekarang. Lima hektar saya kelola sendiri dan lima hektar lagi saya sewakan. Alhamdulillah dari lima hektar yang saya kelola dapat menghasilkan pendapatan sekitar 22,5 juta rupiah per bulan,” ceritanya disambut senyum Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli.

“Gaji kepala dinas saja kalah,” timpal Juaidi sedikit bercanda.

Pendapatan berlipat yang didapat Ariyanto kini mulai terlihat. Bermodalkan penghasilan bertani di sawah, berbagai usaha ia mulai rintis. Tak saja sawah, banyak usaha lain yang sekarang ia garap. Selain cafe, Ariyanto juga memiliki usaha penggilingan padi, warung sembako dan usaha salon rambut. Semua unit usahanya itu terletak di Desa Rias Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan.

“Warung sembako itu istri saya mengelolanya. Kalau salon itu untuk anak saya biar dia punya usaha sendiri dan tidak kerja pada orang lain,” kata Ariyanto seraya menambahkan bahwa beberapa usaha yang ia geluti itu ikut menampung tenaga kerja.

“Di cafe yang kerja ada tiga orang karyawan dan di sawah ada dua orang,” kata Ariyanto yang mengaku sering pelesiran ke luar daerah untuk berlibur bersama keluarga.

Ariyanto terus berusaha. Meski usianya telah lebih setengah abad, ia tak pernah berhenti menjalankan aktivitas sebagai petani yang memang telah ia geluti sejak kecil itu. Ariyanto tak pernah lelah kendati ia harus pulang ke rumah di saat mentari tenggelam dan berangkat kembali ke sawah sebelum matahari terbit.

“Saya mencintai pekerjaan ini,” tutup pria yang juga dipercaya sebagai Ketua Gapoktan Sepakat Jaya Desa Rias itu.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli mengatakan kisah sukses Ariyanto dapat menginspirasi banyak orang. Menurutnya apa yang dinikmati Ariyanto saat ini merupakan buah dari kerja keras yang ia lakukan selama ini.

“Yang penting jangan gengsi,” kata Juaidi.*)

Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Penulis: 
Hairil Anwar
Fotografer: 
Dokumentasi Pribadi Ariyanto
Editor: 
Hairil Anwar