Narasumber di UBB, Wastukan Dinas Pertanian Babel Bicara Kemandirian Pakan Berbasis Sumber Daya Lokal

BANGKA--Membangun kemandirian pakan dengan mengoptimalkan sumberdaya loKal  melalui penerapan teknogi tepat guna, mudah, murah dan aplikatif adalah satu satu strategi pengembangan agribisnis peternakan. Dengan menekan biaya operasional pakan diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi peternak. Porsi biaya pakan dapat mencapai 70 hingga 80 persen dari total biaya usaha.

Hal itu disampaikan Gusva Yetti, SPt.MM, Fungsional Pengawas Mutu Pakan (Wastukan) pada Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada acara Sosialisasi Program Kegiatan Skema Pengabdian Masyarakat Tingkat Universitas, Senin (22/06/2020) pagi di Kantor Desa Pagarawan Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka. Kegiatan yang diselengarakan oleh Universitas Bangka Belitung (UBB) itu mengusung tema  Perberdayaan Masyarakat Desa Pagarawan melalui Isisiasi Budaya Melestarikan Ayam Merawang sebagai Plasma Nutfah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

“Ayam merawang merupakan plasma Nutfah Bangka Belitung yang telah ditetapkan oleh Menteri Pertanian Melalui Keputusan Menteri Pertanian RI  No 2846/ kpts/LB.430/8/2012 tentang Penetapan Rumpun Ayam Merawang,” kata Gusva Yetti.

Selain Gusva Yetti, kegiatan yang diikuti oleh 15 peserta tersebut juga menghadirkan Guru Besar Universitas Bangka Belitung Prof Dr Bustami Rahman sebagai narasumber.

Menurut Gusva Yetti histori panjang yang disimpan oleh Ayam Merawang hingga menjadi kekayaan hayati dan sejarah sebagian masyarakat Kepulauan Bangka Belitung yang harus terus dilestarikan. Ayam Merawang memiliki nilai sosial budaya di provinsi ini karena biasa digunakan masyarakat  etnis Tionghoa  pada salah satu acara keagamaan mereka.

“Kekayaan plasma nutfah ini beresiko punah apabila tidak dikembangkan. Salah satunya disebabkan maraknya terjadi kawin silang dengan bangsa lain sehingga kemurniaan ayam tersebut semakin hilang,” ujarnya seraya menambahkan bahwa Ayam Merawang juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi.  

“Postur tubuh yang besar, laju pertumbuhan yang cepat dan jumlah telur yang banyak  menjadikan ayam ini sebagai  tipe dwiguna yaitu petelur dan pedaging  sehingga diharapkan dapat meningkat atau menambah income masyarakat khususnya pada saat pandemi ini.  Produksi telur yang dapat mencapai 165 butir/tahun dan berat badan yang dapat mencapai lebih kurang 1,2 kilogram pada umur tiga bulan merupakan potensi bisnis yang bisa dikembangkan. Selain nilai gizi baik telur maupun dagingnya yang cukup baik,” tambah Gusva Yetti.

Lebih lanjut Gusva Yetti menyatakan bahwa salah satu faktor keberhasilan dalam usaha peternakan adalah membangun kemandirian pakan ternak. Karena pakan ternak memiliki porsi terbesar dalam biaya operasional agribisnis. Dengan menekan biaya pakan tanpa mengurangi nilai dan jumlah gizi dapat memberikan keuntungan bagi peternak. Salah satu strateginya adalah dengan penerapan teknologi tepat guna berbasis sumber daya lokal.

“Selain faktor pencegahan dan penangulangan penyakit khususnya higene dan sanitasi lingkungan, managemen pemasaran juga harus diperhitungkan,” tandasnya.

Sementara itu Guru Besar Universitas Bangka Belitung Prof. Dr. Bustami Rahman menekankan pentingnya peranan masyarakat untuk ikut melestarikan kekayaan hayati Kepulauan Bangka Belitung. Menurutnya Ayam Merawang harusnya bukan hanya sebagai simbol saja tetapi juga diikuti dengan perkembangan populasi di masyarakat khususnya di Kecamatan Merawang.*)

Sumber: 
DINAS PERTANIAN
Penulis: 
Gusva Yetti SPt MM
Fotografer: 
Gusva Yetti SPt MM
Editor: 
Han Arifin