PELAKSANAAN KEGIATAN GERAKAN PENGENDALIAN OPT HORTIKULTURA TAHUN 2018 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

UPTD Balai Proteksi Tanaman sebagai Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki fungsi dalam pengendalian serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan antisipasi dampak perubahan iklim (DPI). Dalam rangka pelaksanaan fungsi tersebut, maka sesuai dengan program kerja Kegiatan Pengembangan Sistem Perlindungan Hortikultura TA 2018 yang lau untuk pengamanan produksi dari serangan/gangguan OPT hortikultura khususnya pada tanaman cabai dan bawang merah terutama pada daerah sentra produksi hortikultura yang dilaksanakan di 6 kabupaten se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten, telah dilaksanakan Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura seluas 35 hektar.

Metode dari kegiatan Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura meliputi koordinasi, pembinaan, bimbingan tingkat lapangan, supervisi, sinergisme sistem perlindungan hortikultura dalam pemenuhan persyaratan teknis SPS-WTO, dan fasilitasi sarana prasarana dukungan pelaksanaan operasional Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura ramah lingkungan berupa pestisida biologi (agens pengendali hayati) kepada kelompok petani sebagai bahan pengendalian OPT ramah lingkungan. Pelaksanaan Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura diarahkan di sentra/kawasan pengembangan hortikultura, terutama pada derah serangan endemis, daerah sumber infeksi, daerah serangan baru, dan daerah eksplosi dengan melibatkan petani/kelompok tani/PPAH dan Klinik PHT binaan secara langsung sebagai upaya pengelolaan OPT agar tidak menimbulkan kerugian secara nyata. Dalam keadaan eksplosi dapat pula dilaksanakan gerakan massal pengendalian OPT yang dimulai dari pencanangan gerakan pengendalian sampai dengan memberikan bantuan sarana dan bahan pengendalian OPT yang diperlukan serta kegiatan pendukung lainnya.

Adapun rincian lokasi dan luas pelaksanaan Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura untuk tanaman cabai adalah sebagai berikut : Kabupaten Bangka seluas 4 hektar,  Kabupaten Bangka Barat seluas 1 hektar, Kabupaten Bangka Tengah seluas 10 hektar, Kabupaten Bangka Selatan seluas 16 hektar, Kabupaten Belitung seluas 2 hektar, dan Kabupaten Belitung Timur seluas 1 hektar sedangkan untuk tanaman bawang merah seluas 1 hektar di Kabupaten Bangka Tengah.

Sedangkan bahan pengendalian yang diserahkan kepada kelompok tani meliputi agens hayati jamur trichoderma harzianum sp, jamur mycorrhiza sp, dan perangkap lalat buah. Aplikasi bahan pengendalian OPT agens pengendali hayati dengan menaburkannya pada lubang tanam jika tanaman belum ditanam sebagai fungsi preventif/pencegahan serangan patogen atau ditabur dibawah batang tanaman yang telah ditanam seluas cabang tanaman kemudian ditutupi dengan daun kering dengan dosis 1 kg per tanaman.

Agens hayati bersifat parasit terhadap jenis jamur yang lainnya yang bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan dan penyebaan patogen tular tanah penyebab peyakit pada perakaran tanaman yang dapat menimbulkan penyakit busuk akar, busuk pangkal batang sehingga tanaman cabai menjadi layu dengan menggunakan agens hayati diharapkan intensitas layu pada tanaman cabai dapat ditekan.  Selain itu agens hayati juga berperan memperbaiki struktur tanah di sekitar perakaran tanaman dengan cara menguraikan zat-zat organik yang ada di dalam tanah selanjutnya zat-zat yang telah terurai akan menjadi ion-ion yang mudah diserap tanaman.   

Diharapkan dengan dilaksanakannya Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura dapat memberikan dukungan perlindungan hortikultura khususnya tanaman cabai dan bawang merah dalam rangka pengamanan produksi hortikultura dari gangguan/serangan OPT sebagai pelaksanaan dari fungsi UPTD Balai Proteksi Tanaman dapat tercapai. Selain itu untuk membantu petani dalam memasyarakatkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) dan penguatan kelembagaan perlindungan tanaman di tingkat petani sehingga menjadi lebih berdaya serta mandiri. Serta sebagai upaya menekan inflasi dari produk pertanian terutama cabai dan bawang merah dan mengurangi impor ketika pasokan produk hortikultura berkurang sedangkan permintaan konsumsi semakin meningkat.

Sumber: 
DINAS PERTANIAN
Penulis: 
Muhammad Dhani, SE, MM
Editor: 
Ujang, SP