Peluang dan Tantangan Pengembangan Porang di Kepulauan Bangka Belitung

Oleh: Intan Fortuna Fachrawati, SP

(Analis Pasar Hasil Pertanian Muda pada Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)

SEMANGAT Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang tengah fokus mengembangkan tanaman porang didukung oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui beberapa kegiatan salah satunya melalui  kunjungan ke pabrik pengolahan porang dan pembibitan di Madiun Jawa Timur beberapa waktu lalu. Porang layak dikembangkan karena memiliki pasar ekspor yang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Bangka Belitung.
Tanaman porang yang memiliki nama latin Amorphophallus oncophyllus Prain masuk dalam keluarga talas-talasan yang memiliki umbi tunggal yang memiliki kandungan glukomanan berkisar antara 15 – 65 %. Glukomannan banyak digunakan sebagai bahan makanan tradisional di Asia seperti mie, tofu, jelly. Sebagai bahan makanan Porang mempunyai cita rasa yang netral, sehingga porang mudah dicampur dan dicocokan dengan beragam bahan baku kue tradisional maupun modern. Selain itu Porang juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan, seperti dalam pembuatan es krim yang dengan penambahan tepung porang sebagai alternatif bahan penstabil. 
Porang juga digunakan untuk industry antara lain untuk mengkilapkan kain, perekat kertas, cat kain katun, woll dan bahan imitasi yang memiliki sifat lebih baik dari amilum dengan harga lebih murah, tepungnya dapat dipergunakan sebagai penganti agar-agar, sebagai bahan pembuat negative film, isolator dan seluloid karena yang sifatnya yang mirip selulosa. Sedangkan larutannya bila dicampur dengan gliserin atau natrium hidroksida bisa dibuat bahan kedap air, juga dapat dipergunakan untuk menjernihkan air dan memurnikan bagian – bagian keloid yang terapung dalam industri bir, gula, minyak dan serat. 
Banyaknya manfaat porang ini membuat porang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Kementerian Pertanian mencatat ekspor porang terus meningkat. Selama tahun 2018 ekspor porang sebanyak 11 ribu ton dengan nilai Rp220 miliar, selama tahun 2019 sebanyak 11.720 ton senilai Rp 644 miliar. Dan pada periode Januari hingga Juli 2020 sebesar 14.568 ton dengan nilai Rp 801,24 miliar. Negara tujuan ekspor porang antara lain Jepang, Taiwan, Korea dan China serta beberapa negara di Eropa. Porang diekspor dalam bentuk chip atau produk setengah jadi. Di negara tujuan, produk digunakan sebagai bahan dasar pangan hingga industri./ Sentra produksi porang di Indonesia antara lain adalah Jawa Timur, NTT, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan dan Sumatra. Sentra pengolahan tepung porang saat ini, seperti di daerah Pasuruan, Madiun, Wonogiri, Bandung, Maros. 
Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 - 700 m dpl, namun tumbuh baik pada ketinggian 100 - 600 m dpl. Pertumbuhan porang membutuhkan intensitas cahaya maksimum 40%, suhu sekitar 25°C - 35°C dan curah hujan antara 1.000 – 1.500 mm per tahun. Porang dapat tumbuh pada semua jenis tanah dengan pH 6 - 7 (netral), dan tumbuh baik pada tanah yang gembur serta tidak tergenang air. Tumbuhan porang sifatnya toleran naungan (membutuhkan naungan), sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai tanaman sela di antara jenis kayu-kayuan, yang dikelola dengan sistem agroforestry. Intensitas naungan yang dibutuhkan porang untuk mendukung pertumbuhannya adalah minimal 40%. Untuk mencapai produksi umbi porang yang tinggi diperlukan intensitas naungan antara 50 - 60% sehingga di Bangka Belitung porang dapat dikembangkan sebagai tanaman sela di antara tanaman perkebunan atau tanaman kehutanan. 
Perkembangbiakan tanaman porang dapat bersifat generatif dan vegetatif. Secara vegetatif teknik yang dapat digunakan untuk mengembangkan bibit Porang yaitu menggunakan bintil/bulbil atau katak dan umbi. Dalam 1 kg bintil/bulbil atau katak berisi sekitar 100 bintil/bulbil atau katak. Saat panen, umbi atau katak dikumpulkan dan disimpan sampai masuk ke musim hujan. Bintil/bulbil atau katak dapat ditanam langsung di lahan yang disiapkan. Ada dua jenis umbi yang dapat digunakan untuk perkembangbiakan porang yaitu umbi kecil dan umbi besar. Umbi kecil diperoleh dengan mengurangi tanaman yang terlalu rapat dan perlu dilakukan penjarangan. Tanaman hasil penjarangan dikumpulkan yang kemudian digunakan sebagai bibit. Sementara penggunaan umbi besar dapat dilakukan dengan cara umbi besar yang telah diperoleh dibagi menjadi beberapa bagian selanjutnya ditanam pada lahan yang telah disiapkan. Secara generatif perkembangbiakkan porang dengan biji atau buah.  Dalam waktu empat tahun tanaman porang membentuk bunga yang kemudian menjadi buah atau biji. Dalam satu tongkol buah porang dapat menghasilkan biji hingga 250 biji yang nantinya dapat digunakan sebagai bibit porang dengan terlebih dahulu dilakukan penyemaian. Kebutuhan bibit disesuaikan dengan jenis bibit yang digunakan dan jarak tanam. 
Porang sangat baik ditanam pada musim penghujan. Tiap lubang tanam diisi satu bibit porang dengan jarak tergantung dengan kebutuhan (disesuaikan dengan jenis benih yang digunakan). Tanaman porang merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan khusus. Namun agar hasil yang didapatkan maksimal dapat dilakukan perawatan yang intensif diantaranya penyiangan untuk membersihkan gulma yang berupa rumput liar yang dapat menjadi saingan porang dalam mendapatkan unsur hara, air dan sinar matahari. Pemupukan diberikan berupa pupuk dasar dan pupuk susulan, Di Kepulauan Bangka Belitung yang tanahnya bersifat asam diperlukan pemberian kapur pertanian atau dolomit sebelum porang ditanam. Selain itu perlu dilakukan perawatan tanaman pelindung karena porang membutuhkan naungan dalam pertumbuhannya. 
Tanaman porang hanya mengalami pertumbuhan selama 5-6 bulan setiap tahunnya yaitu pada musim penghujan. Di luar masa itu tanaman porang mengalami masa istirahat/dorman dan daunnya akan layu, seolah-olah mati. Tanaman akan Kembali tumbuh pada musim penghujan dan umbi yang tumbuh di dalam tanah akan membesar, Pemanenan porang dilakukan tergantung jenis bibit yang digunakan. Jika menggunakan umbi besar panen dapat dilakukan 1- 2 tahun setelah tanam. Umbi kecil atau katak/bulbil dapat dipanen 2-3 tahun setelah tanam dan buah/biji dipanen 3-4 tahun setelah tanam. Umbi porang dipanen pada bulan Juli – Agustus ketika tanaman porang memasuki masa dorman. Ditandai dengan sebagian besar atau seluruh tanaman sudah mati dan tersisa batang kering. Umbi yang dipanen adalah umbi yang sudah besar yang beratnya mencapai 2 kg/umbi, sedangkan umbi yang masih kecil ditinggalkan untuk dipanen pada daur berikutnya. Dengan populasi 40.000 produksi umbi porang bisa mencapai 80 ton per hektar. 
Selain umbi besar segar yang dapat dipanen untuk diambil glukomanannya, umbi kecil yang dihasilkan pada tahun pertama dan kedua pertumbuhan, umbi katak atau bulbil dan biji/buah dari tanaman porang memiliki nilai ekonomis. Untuk meningkatkan nilai ekonomis dan memudahkan penyimpangan dan pemasaran, umbi segar diproses dan dikeringkan menjadi keripik (chips). Diperlukan proses dan teknologi lebih lanjut untuk mengolah umbi dan keripik porang menjadi tepung glukomanan yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Setelah panen petani porang perlu membersihkan umbi porang dari tanah dan kotoran untuk diiris dengan ketebalan sekitar 5 cm dan kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering selama 5 hari. Porang harus benar-benar kering untuk menghindari timbulnya jamur yang dapat mengurangi kualitas dan harga jual porang. Irisan/chip porang tadi masih bisa diolah menjadi tepung porang yang tentu saja lebih akan meningkatkan nilai jualnya. Chip porang yang telah kering dimasukkan dalam disc mill (mesin penepung). Selanjutnya, tepung porang dihaluskan menggunakan ball mill (mesin penepung). Proses selanjutnya disebut fraksinasi, yaitu saat kalsium oksalat dan zat pengotor yang lain akan dibuang dengan cara dihembuskan. Tidak cukup sampai disana, karena kalsium oksalat dapat menyebabkan gatal pada kulit, mengendap di ginjal, dan dapat merusak hati, maka dilakukan lagi proses pencucian menggunakan etanol. Hasil akhir yang didapat dari proses ini adalah tepung porang murni dengan kandungan glukomanan yang dominan. 
Di Kepulauan Bangka Belitung budidaya tanaman porang masih baru dikenal dalam beberapa tahun terakhir sehingga pengetahuan petani tentang budidaya dan teknologi pasca panen porang masih terbatas. Terbatasnya jumlah bibit yang tersedia, pembeli dan pabrik pengolahan porang merupakan kendala tersendiri dalam pengembangan porang. Apalagi porang tidak bisa dikonsumsi secara langsung karena selain mengandung glucomannan, tanaman mengandung kalsium oksalat yang dapat menyebabkan lidah dan tenggorokan gatal dan panas bila dikonsumsi. Harga bibit porang yang cukup mahal juga menyebabkan kendala bagi petani yang memiliki keterbatasan modal untuk mengembangkan porang.
Namun peluang pengembangan porang di Kepulauan Bangka Belitung cukup besar mengingat prospek pasar baik di dalam negeri maupun luar negeri yang cukup besar. Kebutuhan akan ekspor porang masih terbuka luas karena baru sepertiga kebutuhan pasar yang terpenuhi oleh produksi porang saat ini. Harga chip porang cukup tinggi dan nilai jual porang semakin meningkat setiap harinya. Selain itu potensi porang ditanam sebagai tanaman sela pada perkebunan lada/karet/kelapa sawit maupun hutan masih luas. Adapun strategi pengembangan porang di Kepulauan Bangka Belitung sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi petani dan lahan yang akan menjadi lokasi pengembangan tanaman porang terutama dengan  memanfaatkan potensi lahan perkebunan, pekarangan dan hutan karena dalam pertumbuhannya porang membutuhkan naungan;
2. Pemerintah daerah menjalin kerjasama dengan  perusahaan-perusahaan sebagai off taker dan investor. Perusahaan ini yang akan membantu petani dalam penyediaan bibit bermutu, pendampingan teknologi budidaya dan bertindak sebagai pembeli hasil  panen porang dari petani. Investor diperlukan untuk pembangunan unit pengolahan hasil porang, minimal dalam bentuk keripik (chip);
3. Melibatkan penyuluh pertanian untuk mensosialisasikan kepada petani porang teknologi budidaya porang yang baik dan mendorong petani untuk mengolah produk pertaniannya terlebih dahulu. Inisiatif petani diperlukan untuk mengetahui tentang pengolahan produk serta pengetahuan standar pengiriman porang ke luar negeri sehingga panen yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan eksportir;
4. Mendorong kerjasama antara petani dengan perbankan melalui kredit usaha rakyat (KUR) untuk membantu permodalan petani;
5. Diperlukan penerapan kebijakan dan aturan – aturan hukum oleh pemerintah daerah yang memihak dan mendukung petani porang dalam mengembangkan usahanya

Penulis: 
Intan Fortuna Fachrawati, SP
Sumber: 
Dinas Pertanian