Pemanfaatan Tanaman Asystacia Sebagai Pakan Ternak

Oleh: Gusva Yetti SPt MM

(Pengawas Mutu Pakan Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)

 

SEBAGAIMANA diketahui bahwa pakan merupakan komponen biaya yang paling besar dari struktur biaya usaha peternakan. Sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen usaha peternakan merupakan komponen biaya produksi. Oleh karena itu peternak dituntut untuk dapat mencari sumber pakan yang murah, palatiabilitas tinggi, kandungan nutrisi yang tinggi tapi racun/anti nutrsisi rendah, mudah didapat serta tersedia sepanjang masa.

Ruminansia (sapi,kambing, domba, kerbau) adalah ternak yang mengkonsumsi hijauan sebagai pakan utamanya. Namun kadang kala ketersediaanya sering terbatas baik keterbatasan areal tanam, musim kemarau sehingga peternak banyak mengandalkan rumput lapang yang tersedia di banyak areal terbuka, gulma ataupun disela perkebunan dan lahan pertanian lainnya.

Salah satu rumput yang banyak dianggap gulma ataupun tumbuh di areal pertanian dan perkebunan adalah rumput Asystasia gangetica atau yang sering dikenal dengan rumput kelinci ataupun ara sunsang  

Ara sunsang atau Asystasia adalah spesies tanaman dalam keluarga Acanthaceae merupakan tumbuhan berpotensi menjadi sumber hijauan pakan yang mudah ditemui di perkarangan rumah, tepi jalan, kebun dan lapangan terbuka. Tumbuhan ini berasal dari Afrika. Banyak tumbuh di bawah naungan seperti tanaman pisang ataupun lahan perkebunan sehingga banyak dianggap gulma. 

Di area perkebunan tanaman ini dapat dijadikan sebagai penutup tanah. Tumbuhan penutup tanah di areal perkebunan ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu area penyedia hijauan pakan dengan memanfaatkan area di sela-sela tanaman utama sehingga efisiensi penggunaan lahan tersebut dapat meningkat.

Asystasia memiliki ciri cirinya antara lain  tumbuh menjalar sampai ketinggian 50 cm.  Daun berbentuk oval dan kadang-kadang hampir berbentuk segitiga dengan panjang 2,5–16,5 cm dan lebar 0,5–5,5 cm.  Batang dan daunnya berbulu halus, bunga berwarna putih atau ungu, dan bentuknya menyerupai lonceng dengan panjang 2–2,5 cm.  Buahnya seperti kapsul, berisi empat buah biji dan panjang sekitar 3 cm.

Dalam suatu peneltian dikatakan bahwa tanaman ini juga tahan di bawah naungan seperti lahan kelapa sawit, selanjutnya juga dikatakan bahwa Asystasia gangetica dapat tumbuh dengan baik di bawah naungan kelapa sawit umur 6 tahun dibandingkan dengan umur 8 tahun. Produksi terbaik terdapat pada jarak tanam 10x10 cm pada umur 6 tahun sedangkan untuk kualitas nutrien yang terbaik terdapat pada jarak tanam 40x 40 cm sehingga tanaman ini dapat juga dijadikan penutup tanah

Di Kepulauan Bangka Belitung, tanaman ini selain diberikan untuk sapi, kambing dan domba juga banyak diberikan untuk kelinci dan ayam buras termasuk itik. Mengingat palatabilitas dan kandungan nutrisi tinggi, tanaman ini dapat dijadikan potensi pakan yang baik untuk sapi, kerbau, kambing dan domba. Untuk unggas perlu dibatasi mengingat kandungan serat yang cukup tinggi.

Palatabilitasnya yang tinggi serta kandungan nutrisinya cukup baik sehingga tanaman ini  potensial sebagai hijauan pakan ternak (Asystasia  gangetica) . Berdasarkan hasil pengujian sampel yang diambil oleh Pengawas Mutu Pakan Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  dan diuji di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan Ternak Bekasi bahwa kandungan nilai gizi pada Asystasia gangetica ini terdiri dari bahan kering  23,30% , Protein Kasar  20,35%, Lemak Kasar 3,39%, Serat Kasar 29,49 %, Kalsium 0,90%, Phospohor 0,38 % dan TDN 53,07 %. Sementara penelitian lainnya melaporkan   kandungan  nutrisi  yaitu bahan  kering  10.7%  berat  segar,  protein  kasar cukup tinggi, yaitu berkisar   19.3%  BK dan  serat  kasar  25.5% BK   Selanjutnya kandungan mineralnya cukup tinggi juga , yaitu Ca 17,1 g/kg, K 4,0 g/kg, P 13,4 g/kg, Mg 10,7 g/kg, Zn 1,8 mg/kg, Cu 37,2mg/kg, dan Mn 4,3 mg/kg ( Ageaet al., 2014) dalam Irza Nofriyanti (2016). Terkait dengan hal tersebut maka tanaman ini juga dapat dijadikan salah satu tanaman  sumber protein dan sumber mineral.

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa dengan pemberian Ara Sungsang (Asystasia gangetica) dapat meningkatkan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, nilai hematokrit, dan jumlah leukosit kambing PE dan pemberian Ara Sungsang sebanyak 1 kg memberikan hasil yang paling bagus.*)

 

Daftar Bacaan :

Herilimiansyah¹, NR Kumalasari¹*, L Abdullah¹ (2020)  Evaluasi Sistem Budidaya Tanaman Asystasia gangetica T. Anderson yang Ditanam dengan Jarak Berbeda di Bawah Naungan Kelapa Sawit. Jurnal Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Vol. 18 No. 1: 7-10, April 2020.

 Irza Nofri Yanti (2016), Studi Kandungan Zat Mineral Tanaman Ara Sungsang (Asystasia Gangetica L.) Sebagai Pakan Ternak Kambing Di Wilayah Payakumbuh . Skripsi Bagian Ilmu Nutrisi Dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakanuniversitas Andalas Payakumbuh

Gusmawati, (2017) Pemberian  Ara Sungsang (Asystasia Gangetica)  Terhadap  Darah Kambing Peranakan Etawa . Skripsi Program Studi Peternakan Fakultas Peternakanuniversitas Andalas Padang

Penulis: 
Gusva Yetti SPt MM
Sumber: 
DPKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung