PENYALURAN BANTUAN PAKAN BAGI TERNAK YANG MENGALAMI GANGGUAN REPRODUKSI (HYPOFUNGSI) DALAM MENDUKUNG UPSUS SIWAB TAHUN 2018 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 33 Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.010/12/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting, maka Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting Tahun Anggaran 2018 sebagai kelanjutan tahun 2017. Adapun target UPSUS SIWAB yang ditetapkan untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2018 sebanyak 1.050 ekor akseptor.

Program upaya khusus peningkatan  populasi sapi dan kerbau (UPSUS SIWAB) merupakan  kegiatan yang terintegrasi  melalui sistem managemen reproduksi yang terdapat beberapa aspek yang harus diterapkan didalamnya termasuk pemenuhan  hijauan  pakan  ternak  (HPT)  berkualitas  dan penambahan  pakan  konsentrat.

Defisiensi nutrisi dapat menyebabkan hipofungsi (penurunan kinerja) organ. Salah satu gangguan reproduksi yang  dapat terjadi pada indukan sapi betina adalah hipofungsi ovary. Hipofungsi ovary merupakan suatu keadaan terjadnya penurunan fungsi ovarium akibat jumlah Follicle Simulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Hipofungsi ovary tidak lepas dari kelainan yang terjadi pada kelenjar hipofise anterior sebagai penghasil FSH dan LH. Hipofungsi ovarium disebabkan oleh terjadinya kekurangan nutrisi yng mempengaruhi fungsi hipofise anterior, sehingga produksi dan sekresi hormon FSH dan LH menjadi rendah dan kemudian menyebabkan ovarium tidak berkembang.

Pemenuhan hijauan pakan ternak dan konsentrat yang berkualitas merupakan salah satu upaya perlakuan yang ditujukan untuk perbaikan sistem reproduksi ternak yang mengalami gangguan reproduksi akibat kekurangan nutrisi serta memperkuat jaringan reproduksi yang sudah baik pada ternak sapi bunting sampai dengan melahirkan sehingga akan menghasilkan bibit ternak yang berkualitas baik. Diharapkan dengan upaya tersebut dapat memulihkan sistem reproduksi ternak indukan sehingga memiliki produktivitas yang baik untuk mempercepat peningkatan populasi ternak.  Atas dasar pertimbangan tersebut, maka Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui anggaran APBN TA. 2018 melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan pakan bagi ternak yang mengalami gangguan reproduksi (Hypofungsi) dalam Mendukung Upsus Siwab Tahun 2018 yaitu berupa pakan pollard sebanyak 60 kg per ekor.

Target UPSUS SIWAB tahun 2018 sebagai berikut : target IB sebanyak 1050 ekor, target kebuntingan sebanyak 735 ekor, target kelahiran sebanyak  588 ekor, dan target gangrep sebanyak 300 ekor.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah memulihkan sistem reproduksi ternak indukan yang mengalami gangguan reproduksi (diutamakan hypofungsi) sehingga memiliki produktivitas yang baik, tetap menjadi indukan yang produktif dengan masa calving interval yang pendek sehingga mempercepat peningkatan populasi ternak.

Tahap yang dilakukan pertama kali adalah melaksanakan pengadaaan pakan tersebut di OPD melalui proses pengadaan yang melibatkan pihak ke 3. Selanjutnya pakan konsentrat yang sudah tersedia dilakukan pendistribusian kepada ternak sapi yang mengalami gangguan reproduksi bedasarkan data dari isikhnas. Pendistribusian pakan selanjutnya dilakukan langsung ke peternak dengan pengawalan tim teknis kabupaten, sesuai dengan data isikhnas dan telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan. Sumber dana untuk kegiatan Penyaluran pakan Tahun 2018 ini dialokasikan dalam  APBN Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Tata Cara Pengajuan dan Penyaluran bantuan pakan konsentrat :

Proses pengajuan dan penyaluran bantuan pakan konsentrat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Peternak calon penerima bantuan pakan konsentrat telah terdata di dalam Isikhnas.
  2. Ternak yang akan menerima bantuan pakan konsentrat adalah ternak yang mengalami gangguan reproduksi dan diutamakan hypofungsi.
  3. Pemeriksaan gangguan reproduksi oleh dokter hewan yang berwenang.
  4. Tim Propinsi mendistribusikan pakan ke peternak dengan pengawalan dan pendampingan tim teknis kabupaten sesuai dengan data isikhnas yang telah direkap oleh provinsi.
  5. Peternak menandatangani daftar penerimaan barang dan diketahui oleh petugas kabupaten selanjutnya disampaikan ke Propinsi.
  6. Tim gangrep harus melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap pengaruh/dampak pemberian konsentrat dan selanjutnya melaporkan kembali ke provinsi.
  7. Ternak yang sehat salah satunya ditandai dengan birahi kembali.

GAMBAR.jpg

Penulis: 
Suryati, S.Pt
Sumber: 
DINAS PERTANIAN