Protokol Pemotongan Hewan Kurban di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : drh. Ahmad Nurhakim

Medik Veteriner Muda pada Dinas Pertanian Provinsi Bangka Belitung sekaligus Ketua Bidang Advokasi Perhimpunan Dokter Hewan Provinsi Bangka Belitung

 

BULAN depan umat islam di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Adha 1441 Hijriah.  Namun perayaan idul kurban yang jatuh pada akir bulan Juli 2020 tersebut akan berbeda dengan pelaksanaan idul kurban pada tahun-tahun sebelumnya karena dunia dihadapkan pada pandemi Corona virus disease (Covid)-19.

Covid-19 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri berdasarkan data tanggal 26 Juni 2020 pada laman covid19.babelprov.go.id menunjukkan angin segar karena sebagian besar kasus terkonfirmasi Covid-19 dinyatakan berhasil sembuh sebanyak 130 kasus dari total 148 kasus.

Namun upaya percepatan penanganan Covid-19 tidak boleh berhenti sampai di situ, mengingat umat islam di Bangka Belitung sebentar lagi akan merayakan hari raya idul adha 1441H dan melaksanakan pemotongan hewan kurban. Pemotongan hewan kurban di masa pandemi covid-19 rentan memunculkan klaster-klaster baru penyebaran Covid-19 dimana pengadaan hewan kurban, pemeliharaan, pemotongan, dan pendistribusiannya melibatkan banyak orang.  Untuk itu perlu adanya protokol pelaksanaan kegiatan kurban dalam situasi wabah bencana non alam Covid-19 guna mencegah dan mengendalikan potensi penularan covid-19 terutama di tempat penjualan dan pemotongan hewan kurban.

Terkait dengan pelaksanaan pemotongan hewan kurban, sebelumnya telah diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomo : 114/Permentan/PD.410/9/2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban. Hanya saja mngingat Indonesia saat ini masih menghadapi pandemi Covid-19 maka perlu penyesuaian terhadap prosedur pelaksanaan new normal (perubahan pola hidup pada situasi covid-19) sehingga Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan  Kementerian Pertanian kemudian mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 0008/SE/PK.320/F/06/2020 tentang pelaksanaan kegiatan kurban dalam situasi wabah bencana nonalam Covid-19.

Berdasarkan SE tersebut, ada beberapa faktor risiko yang jadi titik perhatian yaitu sebagai berikut :

  1. INTERAKSI ANTAR ORANG dengan jarak yang dekat dan lamanya waktu interaksi pada saat kegiatan kurban;
  2. PERPINDAHAN ORANG antar Provinsi/Kabupaten/Kota pada saat kegiatan kurban;
  3. STATUS WILAYAH dengan tingkat kejadian yang tinggi dan penyebaran yang luas di suatu wilayah akan meningkatkan risiko penularan;
  4. CARA PENULARAN melalui droplet pada saat batuk/bersin dan/atau penularan tidak langsung melalui kontaminasi permukaan benda; dan
  5. FAKTOR LAINNYA seperti komorbiditas (adanya penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, gangguan paru dan gangguan ginjal), risiko pada usia tua, penularan pada pengguna transportasi publik, dirumah dan komunitas.

Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah untuk mencegah dan mengendalikan potensi penularan Covid-19 di tempat penjualan dan pemotongan hewan kurban. Berikut beberapa panduan yang perlu diperhatikan dan ditaati bersama pada saat jual beli hewan kurban selama dalam kondisi pandemi Covid-19 ;

1. Jaga jarak fisik (Physical Distancing)

Penjualan hewan kurban dilakukan di tempat yang telah mendapat izin dari Bupati/Wali Kota, pembatasan  waktu penjualan, memperhatikan lay out tempat penjualan guna menghindari penumpukan dan berdesak-desakan dengan membuat alur  pergerakan satu arah, membedakan pintu masuk dan pintu keluar, jarak antar orang di dalam lokasi minimal 1 meter, penyediaan fasilitas cuci tangan yang mudah diakses, serta diarahkan pelaksanaan jual beli hewan kurban memanfaatkan teknologi daring atau di koordinir oleh panitia yang merupakan lembaga amil zakat.

2. Penerapan Higiene Personal

Penjual maupun pembeli harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) minimal berupa masker dan mengenakan pakaian lengan panjang selama berada di temat penjualan, serta menggunakan sarung tangan sekali pakai (disposable) saat melakukan pembersihan serta saat menangani kotoran/limbah hewan kurban, setiap orang yang keluar masuk di tempat penjualan hewan kurban harus melakukan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan air mengalir dan/atau menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 70 persen.

3. Pemeriksaan kesehatan awal (screening)

Setiap tempat penjualan hewan kurban harus memiliki alat pengukur suhu tubuh (thermogun) dan melakukan pengukuran suhu tubuh (screening) setiap orang yang memasuki area penjualan hewan kurban, penjual dan pembeli yag berasal dari luar daerah (provinsi/Kabupaten/Kota) harus dalam keadaan sehat yang dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari Puskesmas/rumah sakit pemerintah maupun swasta, dan setiap orang yang memiliki gejala demam/nyeri tenggorokan/batuk/pilek/sesak napas dilarang masuk ketempat penjualan.

4. Penerapan higiene dan sanitasi

Tempat penjualan hewan kurban harus memiliki fasilitas CTPS yang dilengkapi air mengalir, sabun dan/atau hand sanitizer, Penjual harus membersihkan tempat penjualan dan alat yang akan maupun yang telah mereka gunakan dengan desinfektan, serta membuang kotoran atau limbah pada fasilitas penanganan kotoran atau limbah, setiap orang di tempat penjualan harus membawa dan menggunakan alat perlengkapan milik pribadi seperti alat sholat dan alat makan, hindari berjabat tangan dan kontak fisik langsung lainnya serta memperhatikan etika batuk/bersin/meludah, setibanya dirumah harus membersihkan diri dengan cara mandi dan mengganti pakaian sebelum kontak langsung dengan keluarga

Sedangkan untuk pelaksanaan pemotongan hewan kurban dianjurkan dilakukan di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R), namun mengingat keterbatasan jumlah dan kapasitas RPH-R, maka bisa dilakukan di luar RPH-R. Pemotongan hewan kurban yang dilakukan diluar RPH-R, panduan yang harus di perhatikan dan di taati kurang lebih sama  dengan di RPH-R yaitu:

1. Menjaga jarak fisik (physical distancing)

Pemotongan hewan kurban dilakukan di fasilitas pemotongan hewan kurban yang sudah mendapat ijin dari Pemerintah Kabupaten/Kota melalui Dinas yang membidangi fungsi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), membatasi jumlah panitia dalam pelaksanaan pemotongan hewan kurban agar tidak terlalu padat dan hanya boleh di hadiri oleh panitia yang bertugas, mengatur jarak minimal 1 meter dan tidak boleh saling berhadapan antar petugas saat melalkukan aktifitas pengulitan, pencacahan, penanganan dan pengemasan daging serta distribusi daging dibagikan oleh panitia langsung ke rumah mustahik.

2. Penerapan higiene personal

Petugas yang berada di area penyembelihan dan penanganan daging dan jeroan harus dibedakan serta harus mengenakan alat pelindung diri minimal masker, faceshiled, sarung tangan sekali pakai, apron dan penutup alas kaki/sepatu (cover shoes), hindari menyentuh muka termasuk mata, hidung, telinga dan mulut serta rajin melakukan CTPS/hand sanitizer, hindari berjabat tangan dan perhatikan etika batuk/bersin/meludah, membersihkan tempat pemotongan dan peralatan yang akan ataupun yang telah digunakan dengan desinfektan serta membuang kotoran dan/atau limbah ke tempat fasilitas penanganan kotoran atau limbah, kemudian membersihkan diri dengan cara mandi dan mengganti pakaian setibanya di rumah

3. Pemeriksaan kesehatan awal (screening)

Panitia berasal dari lingkungan tempat tinggal yang sama dan tidak dalam masa karantina mandiri, melakukan pengukuran suhu tubuh (screening) disetiap pintu masuk tempat pemotongan dengan alat pengukur suhu tubuh thermogun, dan setiap orang yang memiliki gejala demam/nyeri tenggorokan/batuk/pilek/sesak napas dilarang masuk ketempat pemotongan.

4. Penerapan higiene dan sanitasi

Menyediakan fasilitas cuci tangan sabun cair atau hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 70 persen, membersihkan tempat dan peralatan tetap bersih dan higienis, hindari berjabat tangan dan kontak fisik langsung lainnya dan memperhatikan etika batuk/bersin/meludah, membawa perlengkapan alat makan dan shalat masing-masing dari rumah serta membersihkan diri dengan cara mandi dan mengganti pakaian setibanya di rumah.

Pembinaan dan pengawasan  pelaksaanan pemotongan hewan kurban dalam situasi wabah bencana nonalam Covid-19 dilakukan oleh pemerintah melalui Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi fungsi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) dan Kesehatan Hewan (Keswan) besinergi dengan Dinas yang membidangi fungsi kesehatan serta instansi yang terkait lainnya yang membidangi fungsi keagamaan.

Semoga pelaksaanan kurban dalam situasi wabah pandemi Covid-19 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat berjalan optimal dan Covid-19 dapat dicegah dengan menerapkan Surat Edaran tersebut.*)

Penulis: 
drh. Ahmad Nurhakim
Sumber: 
DINAS PERTANIAN