QR Code Upaya Pengembangan Sistem Perbenihan Tanaman Berbasis Digitalisasi

 leh: Erico Febriandi, ST., M.Si

(Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda pada UPTD Pengawas dan Sertifikasi Mutu Benih dan Anggota Pergizipangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)

 

KEMAJUAN tekonologi berdampak pada seluruh lini kehidupan. Muncul dan berkembangnya sistem digitalisasi memaksa semua orang untuk terus berinovasi menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa terkecuali. Bagi yang respon tentu akan bertahan dan berkembang namun bagi yang acuh pasti akan tergilas.  

QR Code atau Quick Response Code adalah bentuk evolusi dari Bar Code (Kode Batang) yang satu dimensi menjadi dua dimensi. Gunanya untuk menyimpan data yang lebih besar dari Bar Code. Hal ini sudah lazim digunakan di luar negeri terutama untuk produk elektronik maupun produk makanan. Kini  QR Code akan dimanfaatkan pada sector pertanian terutama yang terkait dengan pelabelan benih khususnya benih tanaman pangan sebagai rangkaian dari proses dan kegiatan sertifikasi benih di Indonesia. Tujuannya untuk mengembangkan pertanian berbasis digital (revolusi 4.0) agar informasi, varietas, mutu, jumlah, waktu serta status benih dapat diakses secara luas. Menteri pertanian Syahrul Yasin Limpo membuat kebijakan untuk meningkatkan kecepatan respon serta mencegah pemalsuan benih yang beredar di masyarakat.

Sistem QR Code pada label benih itu sendiri rencananya akan mulai serentak diterapkan dan diuji coba sembari melakukan penyempurnaan pada penerapan aplikasi ini pada tahun  2021 termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai pengganti sistem pelabelan yang sekarang digunakan di benih tanaman pangan. Sejumlah perangkat pendukung telah disiapkan pusat dan telah didistribusikan ke seluruh provinsi di tanah air. Kementerian Pertanian Republik Indonesia berusaha mengembangkan manajemen teknologi informasi berbasis digital. Hal ini tentu baik untuk memberikan jaminan mutu terhadap benih dan diharapkan dapat diwujudkan dengan aplikasi QR Code melalui smartphone.

          Melalui optmalisasi informasi maka masalah di lapangan seperti pemalsuan dan tidak sinkronnya data benih diharapkan mampu ditekan sehingga permasalah tersebut dapat diatasi dimasa yang akan datang. Sejumlah produsen benih seperti PT BISI dan PT Syngenta pun mendukung upaya ini untuk membantu meningkatkan informasi dan mutu benih di lapangan, memudahkan pengawasan peredaran benih serta dapat memberikan informasi mengenai stok benih. Selain itu dengan penggunaan QR Code maka layanan publik mengenai informasi  sebaran benih akan sangat mudah dan cepat diketahui oleh masyarakat secara efektif dan transparan. Bahkan dengan QR Code diharapkan antar produsen benih dapat terbantu dalam penyaluran benihnya dan mencegah kecurangan-kecurangan lainnya terjadi.        Kelebihan QR Code dari label yang lama adalah: bersifat universal, mudah diakses dengan smart phone, efisien dan membantu kelancaran informasi. Namun ada pula kekurangannya yakni tidak dibutuhkan akses internet yang memadai dan pelaku usaha perbenihan mesti memiliki kemampuan selalu men-upgrade teknologi yang terus berkembang. Jika uji coba QR pada perbenihan tanaman pangan berjalan baik tak menutup kemungkinan sistem serupa digunakan pula pada benih tanaman hortikultura dan benih tanaman perkebunan pada waktu mendatang. Semoga.*)

Penulis: 
Erico Pebriandi ST MSi
Sumber: 
DINAS PERTANIAN