Yo Kite Beternak  

Oleh: Gusva Yetti SPt MM

(Pengawas Mutu Pakan Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)

 

ALHAMDULILLAH, Usaha Peternakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Beruntung. Yo Kite Beternak  

Hari ini, aku mencoba membuat tulisan kecil tentang pakan ternak yang sering diangap orang gulma baik dilahan pertanian, perkebunan, pingir jalan, pekarangan rumah dan lain-lain. Karena tanaman ini memang gampang hidup dilahan terbuka maupun dibawah naungan.

Tanaman gulma yang penulis maksudkan adalah Asystasia gangetica. Di Bangka Belitung,  ada sebagian peternak yang sudah memberikannya sebagai pakan pada sapi peliharaannya karena memang disukai oleh ternak ruminansia dan kelinci. Malah penulis sendiri juga pernah melihat dan mencoba pada ayam merawang dan   itik walaupun jumlahnya harus dibatasi  karena kemampuan unggas terbatas dalam mencerna serat hijauan.

Mencoba mengangkat tema beberapa bahan pakan lokal yang murah kalau bisa tidak beli, jumlahnya banyak, nilai gizi bagus, disukai ternak sehingga dapat menekan biaya operasional. Karena pakan 60-70 % dari total biaya operasional.

Tanaman ini  sering  juga disebut rumput kelinci atau rumput Ara Sunsang.  Kandungan Nutrisinya yang cukup tinggi  berupa bahan kering  23,30% , Protein Kasar  20,35%, Lemak Kasar 3,39%, Serat Kasar 29,49%,  Kalsium 0,90%, Phospohor 0,38 % dan TDN 53,07 %.  Sementara penelitian lainnya melaporkan kandungan mineralnya cukup tinggi juga, yaitu Ca 17,1 g/kg , K 4,0 g/ kg , P 13,4 g/kg, Mg 10,7 g/kg, Zn 1,8 mg/kg, Cu 37,2 mg/kg, dan Mn 4,3 mg/kg    ( Ageaet al., 2014) dalam Irza Nofriyanti (2016).

Asystasia ini merupakan salah satu bahan pakan ternak lokal yang banyak terdapat di Bangka Belitung, harganya murah bahkan gratis, mudah didapat serta disukai oleh ternak. Bahan pakan lokal lainnya seperti limbah ubi berupa batang, kulit dan daun, onggok. Limbah perkebunan sawit berupa batang dan daun, pelepah, bungkil inti sawit, solid, janjang kosong. Limbah jagung dan padi berupa jerami, dedak,sekam, menir,  bongkol jagung maupun jagungnya sendiri. Selanjutnya ada limbah pengolahan sagu, tempe, tahu.

Potensi  lainnya adalah rumput liar/ alam lainya yang memang banyak tersebar baik dirawa-rawa, tegalan sawah, bekas lahan tambah timah dll.  Walau sebaiknya menaman rumput unggul baik secara hamparan maupun ditumpansari dengan tanaman lainnya sehingga ketersediaan dan kualitas rumput akan terjamin.

Sedangkan sapi potong masih dipasok dari luar Bangka Belitung sehingga pasar sudah siap menerima. Limbahnya berupa kotoran padat dan cair juga menambah nilai usaha karena dapat dijual sebagai bahan pupuk organik tanaman perkebunan, pertanian serta perbaikan struktur tanah eks tambang

Keberadaan perusahaan pembibitan cukup mendorong agribisnis ayam pedaging sehingga sudah dapat memenuhi kebutuhan  Bangka Belitung sendiri dan bahkan kadang-kadang juga dikirim ke palembang.

Laporan Badan Pusat Statistik  Perkembangan Nilai Tukar Petani Provinsi Kep. Bangka Belitung Mei 2021 pada Subsektor Peternakan (NTPT) Pada bulan Mei 2021, NTPT mengalami kenaikan indeks dari 106,41 menjadi 108,62 atau naik sebesar 2,07 persen dibandingkan pada bulan April 2021.

Naiknya indeks ini disebabkan oleh naiknya It sebesar 2,28 persen lebih tinggi dari naiknya Ib sebesar 0,20 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks pada kelompok ternak besar sebesar 2,53 persen, unggas sebesar 2,54 persen dan hasil-hasil ternak/ unggas sebesar 0,88 persen. Komoditas yang menyebabkan kenaikan It terbesar pada subsektor peternakan yaitu ayam ras pedaging dan sapi potong. Peningkatan Ib dikarenakan oleh kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,38 persen dan kenaikan indeks BPPBM sebesar 0,06 persen.

Angka diatas berarti apabila nilai Nilai Tukar Petani lebih dari 100 berarti sudah ada keuntungan yang diterima oleh petani lebih baik lagi apabila nilai terima (lt)  lebih tinggi dari nilai beli (lb).

Selain itu dukungan pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung cukup kuat dalam peningkatkan populasi ternak, penguatan permodalan usaha serta peningkatan pelayanan kesehatan hewan, peningkatan nilai tambah usaha agribisnis tersebut.

Tahun 2021 ini penguatan permodalan melalui  kredit usaha  rakyat  (KUR) penggemukkan sapi potong sudah menfasilitasi  peternak sebanyak  2 tahap. Pada tahap ke 2 ini menfasilitasi 8 kelompok dengan jumlah peternak 96 orang atau 290 ekor sapi. komoditi penggemukkan domba masih dalam proses penggumpulan peternak.

Untuk peningkatan populasi sapi potong tahun 2021 ini akan didistribusikan sapi sebanyak 80 ekor pada 8 kelompok, 14 paket untuk 14 kelompok kegiatan UPPO dengan rincian setiap kelompoknya sapi 8 ekor, alat/saran UPPO, sarana pengangkut(motor roda 3), selain itu juga pendistribusian sapi  dari Balai Benih.

Yo kite beternak, nak nunggu ape agi......

Ternak Bertambah, tanaman banyak buah, Rezeki Melimpah, Anak Bisa Sekolah, Kumpul Modal tuk ke Mekah, Jangan Lupa  Sedekah. Semoga  Babel Berkah*)

 

Penulis: 
Gusva Yetti SPt MM
Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan

Artikel

27/08/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
19/07/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
05/07/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
26/04/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan