Hari Jadi Peternakan Dan Kesehatan Hewan 2021, Momentum Bangkitnya Ekonomi di Tengah Pandemi

PANDEMI Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang mengganas sejak setahun lalu memaksa semua sektor kehidupan melemah. Tak cuma perekonomian masyarakat yang terganggu, pelayanan jasa dan keuangan juga ikut terhambat tak terkecuali subsektor peternakan. Hal ini tergambar dari permintaan unggas yang terus menurun, harga bahan baku pakan yang semakin tinggi hingga  daya beli masyarakat yang tak sebagus sebelum corona mewabah.

Hari jadi Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2021 yang jatuh pada hari ini dan diperingati setiap tanggal 26 Agustus setiap tahun mesti dijadikan momentum bangkitnya ekonomi melalui subsektor peternakan.

Melalui tema “Kesehatan Hewan Tanguh, Peternakan Indonesia Tumbuh, Peternakan dan Kesehatan Hewan Berjaya, Masyarakat Indonesia Sejahtera” pandemi menjadi tantangan yang harus dihadapi negeri ini khususnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam rangka memenuhi capaian target dan sasaran menjadi Lumbung Pangan Asal Ternak  di tahun 2024 atau yang sering disingkat BABEL LUMPAT 2024.

Pembangunan peternakan tidak cuma terfokus pada penyediaan protein hewani asal ternak tetapi juga dapat dijadikan penyedia lapang pekerjaan baik pada on farm maupun di off farm nya sehingga dapat dikatakan subsektor peternakan dapat dijadikan roda penggerak  ekonomi.

Serangkaian kebijakan dan strategi telah disiapkan dan dilaksanakan oleh Pemerintah  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, diantaranya Pengembangan  Integrasi Sawit Sapi Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit yang telah menghasilkan berdasarkan Peraturan Gubernur No 48 Tahun 2019 yang salah satu isi poinnya adalah setiap sepuluh hektar lahan kelapa sawit milik perusahaan perkebunan yang sudah menghasilkan wajib memelihara satu ekor sapi di dalam areal perkebunan.

Potensi sumber pakan yang tersedia dilahan perkebunan sawit dapat dimanfaatkan oleh sapi dan kotorannya  dapat dijadikan pupuk bagi sawit. Biaya pemupukan dan penyiangan dapat ditekan serta penambahan pendapatan dari penjualan ternak.

Peningkatan populasi ternak dari luasan lahan perkebunan kelapa sawit perusahaan yang telah menghasilkan seluas 163.708,68 hektar tersebut adalah  16.371 ekor atau akan ada penambahan  lebih dari 100 persen  dari populasi 15.743 ekor saat ini.  

Memang kewajiban memelihara satu ekor sapi untuk sepuluh hektar lahan sawit yang sudah menghasilkan masih jauh dari kapasitas tampung. Kapasitas sapi di lahan sawit yang sudah menghasilkan adalah 2,7 satuan ternak ( Matius, 2004) yang berarti bahwa untuk satu hektar lahan sawit dapat menampung ternak sapi dua hingga hingga ekor sapi.

Strategi lainnya adalah dengan peningkatan kelahiran ternak baik melalui IB (Inseminasi Buatan) atau kawin suntik maupun kawin alam pada Kegiatan SIKOMANDAN. Target Akseptor tahun 2021 sebanyak 1000 ekor, realisasi sampai saat ini sudah 83 persen IB, realisasi bunting 816  atau 99,63 persen dari 819 sapi  serta lahir 674 ekor  atau 94,80 persen dari target 711 ekor.

Penambahan indukan sapi potong dengan penguatan pada kelompok hampir tiap tahun dilakukan. Pendistribusian indukan tersebut juga didukung bantuan bibit hijauan pakan berkualitas. Tahun 2021 ini saja ada penguatan untuk 80 ekor sapi jenis PO untuk 8 kelompok yang tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Selatan, Belitung dan Belitung Timur. Selain itu pendistribusian sapi juga dilakukan melalui kegiatan UPPO sebanyak 14 paket untuk 14 kelompok dengan rincian setiap kelompok mendapatkan 8 ekor sapi, alat/sarana UPPO, sarana pengangkut berupa kendaraan roda tiga. Kemudian Balai Benih Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga mendistribusikan sapi untuk kelompok peternak tahun ini.

Penguatan permodalan melalui kredit usaha  rakyat  (KUR) penggemukkan sapi potong sudah menfasilitasi peternak sebanyak dua tahap dan pada tahap kedua ini KUR menfasilitasi delapan kelompok peternak sebanyak 96 orang atau 290 ekor sapi dengan dana yang terserap lebih dari 500 juta rupiah.

Dampak pembangunan peternakan berdampak pada Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Laporan Badan Pusat Statistik menyebutkan perkembangan NTP pada Mei 2021 mengalami kenaikan indeks dari 106,41 menjadi 108,62 atau naik sebesar 2,07 persen dibandingkan pada bulan April 2021.

Naiknya indeks ini disebabkan oleh naiknya It sebesar 2,28 persen lebih tinggi dari naiknya Ib sebesar 0,20 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks pada kelompok ternak besar sebesar 2,53 persen, unggas sebesar 2,54 persen dan hasil-hasil ternak/ unggas sebesar 0,88 persen. Komoditas yang menyebabkan kenaikan It terbesar pada subsektor peternakan yaitu ayam ras pedaging dan sapi potong. Peningkatan Ib dikarenakan oleh kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,38 persen dan kenaikan indeks BPPBM sebesar 0,06 persen.

Artinya apabila nilai NTP lebih dari 100 sudah ada keuntungan yang diterima oleh petani lebih baik lagi apabila nilai terima (lt)  lebih tinggi dari nilai beli (lb).

Walaupun dampak ekonomi pembangunan peternakan sudah memberikan nilai positif khususnya bagi peternak tapi perjuangan untuk mencapai Kepulauan Bangka Belitung Swasembada Sapi atau dikenal dengan BABEL LUMPAT 2024 harus terus diupayakan.

Hal ini  memerlukan kerja keras, komitmen semua pihak, bukan hanya pemerintah  pusat/ provinsi, kab/kota tetapi juga peranan pengusaha/ swasta khususnya perkebunan kelapa sawit, perbankan, asosiasi – asosiasi  profesi peternakan, peneliti/perguruan tinggi dan kelompok/petani/peternak itu sendiri.

Melalui hari jadi Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2021 ini mari terus kita kobarkan semangat untuk terus berpikir dan berbuat untuk bangkit dan membangun peternakan tangguh menuju masyarakat Indonesia Sejahtera.*)

Penulis: 
Gusva Yetti SPt MM
Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan

Artikel

02/11/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
20/10/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
26/09/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
27/08/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan