Idul Fitri dan Cara Cerdas Memilih Daging yang ASUH

Oleh:

Catur Nugroho, AMd

(Pengawas Mutu Hasil Pertanian  Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)

IDUL FITRI sebentar lagi. Berbagai persiapan dilakukan umat muslim untuk menyambut hari kemenangan itu setelah berpuasa sebulan penuh. Tidak saja baju yang baru, menu makanan spesial juga turut jadi perhatian untuk menjamu kerabat yang nanti datang bertamu.

Idul fitri momen silaturrahmi. Berkumpul bersama keluarga dan sanak famili jadi salah satu  tradisi yang dinanti. Namun ajang kumpul-kumpul tersebut tidak terasa lengkap tanpa hidangan dan makanan lezat seperti opor, rendang, ayam kecap, sambal hati serta kue -kue  yang banyak menggunakan telur maupun susu. Karenanya jelang lebaran produk peternakan tersebut selalu diburu pembeli.

Namun produk peternakan gampang dioplos serta memiliki resiko kerusakan yang tinggi.  Banyaknya ditemukan daging sapi gelonggongan dan telur busuk yang dijual pedagang di pasaran menjadi salah satu bukti. Karena itu konsumen mesti berhati-hati. Pastikan produk tersebut Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) sebelum dibeli.

AMAN artinya terbebas  dari zat-zat yang membahayakan kesehatan manusia seperti jasad renik penyebab penyakit, racun, residu antibiotika, pestisida, logam,berat, kerikil, pecahan kaca, rambut, bulu dan benda lain tidak lazim. Selanjutnya Sehat artinya produk tersebut berasal dari hewan yang sehat, tidak mengandung kuman penyebab penyakit maupun racun yang membahayakan kesehatan konsumen. Sementara Utuh mengandung arti daging berasal dari satu jenis hewan secara keseluruhan, tidak dipalsukan dengan daging jenis lain dan teriris secara rapi tidak tercabik-cabik. Sedangkan Halal menyangkut cara penyembelihan hewan penghasil daging sesuai dengan aturan agama dan memenuhi aspek kesejahteraan hewan.

Daging merupakan salah satu produk peternakan yang gampang rusak. Agar tidak rugi, oknum pedagang nakal mencampurkan dagaing dengan borak ataupun formalin. Padahal boraks sejatinya digunakan untuk membuat campuran detergen, glasi enamel gigi buatan, plastik, antiseptik, pembasmi serangga dan pengawet kayu. Begitu juga dengan formalin. Bahan ini biasanya digunakan sebagai pengawet pada mayat, bahan tambahan kosmetik, perabot kayu dan desinfektan kuat.

Boraks bila tertelan dalam jumlah tinggi dapat meracuni sel-sel tubuh dan menyebabkan kerusakan usus, hati, ginjal dan otak. Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama maka dapat menyebabkan kerusakan hati dan kanker.

Daging sehat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, (1)Berwarna segar, sesuai dengan warna jenis dagingnya, (2), Beraroma khas, sesuai dengan aroma jenis dagingnya (3) Kenyal alami.

Perlu cara yang cerdas untuk memilih daging yang sehat yaitu:

  1. Pilihlah daging yang warnanya merah segar, sesuai dengan jenis dagingnya. Hindari memilih daging yang warnanya sudah berubah, misalnya warnanya menjadi merah karena perdarahan, abu-abu, hijau atau biru.
  2. Pilihlah daging yang beraroma segar, tidak anyir atau busuk.
  3. Pilihlah daging yang kenyal alami. Caranya : teken sebentar daging dengan telunjuk lalu lepaskan. Daging yang baik akan segera kembali ke posisi semula kecuali daging yang sudah di-es-kan. Hindari memilih daging yang lengket di tangan sewaktu ditekan dengan telunjuk, bergetah dan yang permukaannya seolah-olah berlumpur sebab daging yang demikian telah mengalami kerusakan dan tidak sehat untuk dikonsumsi.

Kerusakan daging disebabkan oleh dua hal, yaitu karena otolisis dan pencemaran oleh kuman. Daging yang telah rusak dan tercemar kuman bila dikonsumsi akan menimbulkan gangguan kesehatan berupa keracunan, diare atau mencret, tertular penyakit seperti tifus, kolera, desentri dan cacing pita. Kerusakan daging dapat diperlambat dengan cara penanganan daging yang bersih dan higienis serta penyimpanan di suhu dingin atau beku.

Selain memilih daging yang sehat, selanjutnya harus diperhatikan adalah penanganan daging yang tepat. Karena daging merupakan salah satu bahan mudah sekali tercemari mikroorganisme  dan menjadi rusak atau busuk. Daging yang tercemari mikroorganisme dapat menjadi media penularan penyakit atau food borne disease, menjadi sumber infeksi atau food infection dan penyebab keracunan

Penanganan daging yang benar meliputi :

  1. Memisahkan daging dengan jeroan
  2. Tidak mencampur satu jenis daging dengan jenis daging lain.
  3. Tidak menempatkan daging di satu tempat dengan bahan lain, misalnya sayuran, bumbu, atau benda lainnya tanpa pembatas, agar tidak terjadi kontaminasi silang.
  4. Pergunakan peralatan khusus untuk daging, yang tidak dipakai untuk penanganan bahan lain.
  5. Tempat daging harus bertutup untuk menghindarkan daging dari debu dan lalat.
  6. Daging yang tidak langsung dimasak harus disimpan dalam suhu dingin, sebaiknya dalam suhu 18OC di bawah 0OC atau lebih rendah lagi. (≤ -18OC)

Penanganan daging secara bersih meliputi :

  1. Menempatkan daging di tempat dan lingkungan yang bersih, tidak dekat tempat sampah atau tempat pembuangan limbah.
  2. Peralatan yang kontak dengan daging seperti pisau, talenan, alat penimbang, waskom dan semua peralatan lain yang digunakan harus bersih. Segera dicuci setelah dipakai, bila perlu dicuci dengan air panas, dan dipastikan bersih sebelum dipakai.
  3. Alat pengangkutan daging yang digunakan harus bersih, tertutup, dan untuk pengangkutan jarak jauh harus bersuhu dingin.
  4. Air untuk mencuci daging dan juga untuk mencuci peralatan harus air bersih.
  5. Tempat penyimpanan daging harus bersih dan dibersihkan secara teratur.

Mari lengkapi ibadah puasa dan Hari raya Idul Fitri dengan senantiasa memilih dan mengkonsumsi produk hewan yang ASUH. Selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah di tengah-tengah kehangatan keluarga. Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.*)

Penulis: 
Catur Nugroho, AMd
Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan

Artikel

30/04/2022 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
24/04/2022 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
02/11/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
20/10/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
26/09/2021 | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan