Komoditas Perkebunan Ikut Tumbuhkan Ekonomi Daerah

PANGKALPINANG – Kontribusi subsektor perkebunan sangat besar dalam mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel Edi Romdhoni SP MM mengatakan eksistensi komoditas perkebunan dalam menopang ekonomi daerah itu terus menguat seiring dengan semakin meningkatnya angka produksi dan nilai ekspor komoditas itu ke berbagai negara.

Ia mencontohkan lada putih dan kelapa sawit dua komoditi perkebunan Babel yang ikut menyumbang pendapatan negara dan membantu meningkatkan pendapatan petani. 

 “Lada putih ke Jepang Taiwan dan Vietnam dan olahan sawit, minyak sawit seperti yang pernah dikirim ke Myanmar dan yang akan datang ekspor non timah akan terus mengalami kenaikan serta masih terbuka peluang yang lebar untuk meningkatkan ekspor tersebut,” kata Edi saat membuka Pertemuan Koordinasi dan Konsultasi Pembangunan Perkebunan yang diselenggarakan Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel di Swiss-Belhotel Pangkalpinang, Rabu (15/03/2023).

Edi mengakui jika harga komoditi perkebunan seperti Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit sempat terpuruk tahun lalu. Bahkan harga belinya sempat bertengger di angka terendah akibat adanya larangan ekspor ke luar negeri waktu itu.

“Namun (harga TBS kelapa sawit) pada saat sekarang sudah berangsur-angsur menuju ke arah yang lebih baik dengan dihapuskannya pajak ekspor CPO dan turunan-turunannya sampai dengan tanggal 31 Agustus 2022 yang lalu (sebagaimana) tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 115 Tahun 2022,” ujarnya seraya berharap kebijakan yang dibuat pemerintah itu dapat kembali membangkitkan semangat petani untuk kembali mengelola kebun sawitnya.

“Dan kenaikan taraf hidup di masyarakat semakin meningkat,” ungkapnya.

Terkait lada putih yang menjadi komoditi unggulan Babel Edi menjelaskan bahwa akan tetap menjadi perhatian pemerintah. Poduksi tanaman rempah itu terus digenjot  melalui berbagai cara dalam rangka memberikan hasil produksi yang optimal.

 “Guna mencapai target produksi yang optimal upaya yang dilakukan pemerintah dimulai dari menggunakan bibit unggul bermutu dan terbukti dapat memberikan berbagai keuntungan karena karena selain dapat meningkatkan produktivitas per satuan luas, meningkatkan hasil juga akan menekan biaya produksi akibat serangan hama penyakit,” jelasnya.

Edi berharap pembangunan sektor perkebunan ke depan dapat terus selaras antara tingkat tingkat pusat maupun daerah. Pada kesempatan itu ia juga menyinggung kegiatan pasca panen lada yang kebanyakan masih tradisonal sehingga mempengaruhi kualitas lada itu sendiri.

“Program pemerintah untuk meningkatkan kapasitas teknologi pasca panen masih sangat terbatas dan memberikan efek ungkit yang kecil untuk meningkatkan kualitas lada petani sehingga dibutuhkan rekayasa agar upaya meningkatkan kualitas lada putih lada petani dapat memberikan daya ungkit yang lebih besar,” tandasnya.*)

Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Penulis: 
Hairil Anwar
Fotografer: 
Yondi/Septian
Editor: 
Hairil Anwar

Berita