UPJA Bina Harapan Dusun Kamat, UPJA Pemula yang Mulai Berkembang di Bangka Barat

SENJA terus mendekat. Dusun Kamat yang semula terang lalu berganti pekat. Rendah suara yang tadinya riuh pun terdengar melambat. Parahnya lagi cuaca pekat makin mencekat tatkala aliran listrik tiba-tiba ikut ‘tersumbat’. Akibatnya suasana Kamat jadi bertambah gelap.

“Nah, listrik mati, coba pake senter,” kata Rahim, Ketua Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Bina Harapan Dusun Kamat Desa Simpang Yul Kecamatan Tempilang memberi instruksi pada anggotanya saat rombongan Kementerian Pertanian beserta Tim Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung termasuk Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Bangka Barat melakukan monitoring bantuan pemerintah di desa setempat pekan lalu.

UPJA Bina Harapan merupakan usaha pengelola alsintan di Dusun Kamat. Menurut Kepala Seksi Pupuk, Pestisida dan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Bangka Barat Tresna Raharja SP, UPJA Bina Harapan merupakan UPJA terbaik dari sekian banyak UPJA yang ada di Kabupaten Bangka Barat saat ini. Banyak indikator disebut Tresna sebagai tolok ukur keberhasilan pengurus dalam mengelola UPJA. Selain manajemen organisasi, transparansi dalam pengelolaan keuangan juga menjadi acuan penilaian.

“Dari segi manajemen organisasi dan pengelolaan memang UPJA Bina Harapan sangat baik dari semua UPJA yang ada di Bangka Barat. Mereka memiliki dana di kas. Jumlahnya lumayan banyak yang didapat dari sewa pengelolaan alsintan. Klasifikasinya menuju kelas menengah (berkembang-red),” sebut Tresna kepada distan.babelprov.go.id, Kamis (14/10/2021).   

Menurut Tresna UPJA Bina Harapan terus didorong meningkatkan kelasnya ke arah professional. Karena itu pihak pengelola terus berusaha menata organisasi.

“UPJA Bina Harapan belum bisa ke profesional karena belum mampu membeli alsintan dari uang kas sendiri. Kemampuan mereka baru sebatas membeli suku cadang saja. Kemudian kendala yang lain belum ada bengkel alsintan. Karena itu kami menggandeng UPJA Marga Jaya dari Desa Rias Bangka Selatan jika ingin memperbaiki peralatan yang rusak,” ujar Tresna.

Sementara itu Ketua UPJA Bina Harapan Rahim menjelaskan UPJA yang ia nakhodai itu terbentuk tahun 2013. Saat ini ada banyak alsintan yang dikelola. Tak saja petani setempat, petani dari sejumlah tempat lain pun tak jarang menyewa alat yang mereka miliki.

“Tapi yang kami utamakan anggota kami dulu, kecuali petani di tempat kami memang sedang tidak menggunakan baru kami sewakan ke petani dari daerah lain,” kata Rahim.

Dijelaskan Rahim ada banyak alsintan yang tersimpan dan terkelola dengan baik di UPJA Bina Harapan. Penggunaan alsintan disesuaikan dengan standar operasional prosedur sehingga kondisi alat tetap terjaga meskipun ada yang sudah berusia tua.

“Traktor roda empat ada satu unit, traktor roda dua ada tujuh unit, alat tanam empat unit, combine dua unit, power tresher tiga unit dan penggiling padi satu unit. Semua alat terawat dengan baik,” jelas Rahim didampingi Ketua Kelompok Tani Dusun Kamat Sulaiman.

Terkait dengan tarif sewa alsintan menurut Rahim bervariasi tergantung jenis alat.

“Kalau traktor roda empat sewanya 250 ribu rupiah per jam. Operator dari kita, bahan bakar juga dari kita dan yang sewa terima beres. Untuk traktor roda dua tergantung luas lahan. Luas lahan setengah hektar sewanya 100 ribu rupiah. Sedangkan penggiling 1000 rupiah per kilogram,” terang Rahim seraya menambahkan manajemen keuangan dan administrasi UPJA dibimbing penyuluh pertanian desa setempat.

“Yang ngajarin penyuluh. Banyak peran mereka. Duit masuk dan keluar tercatat rapih,” tutup Rahim.*)

Sumber: 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Penulis: 
Hairil Anwar
Fotografer: 
Dokumentasi UPJA Bina Harapan
Editor: 
Hairil Anwar